Catatan

Teman (ber)Bicara: Post Power Syndrome, 'Bubble' Komunitas, Organisasi Mahasiswa, dan Karya

14.24

Khidmat dalam riuh
(Graduasi 2 BEM KMFT UGM 2017)
oleh: Uray Zulfikar
Malam ini (23/03/2018) cukup panjang. Dingin Jalan Kaliurang secara semena-mena merangsek masuk ke daerah 'Jakal Bawah'. Bahkan sempat kesal sejenak karena ajakan malam itu terlalu 'jauh' dari jangkauan main saya.

"Di sekitaran Jakal (Jalan Kaliurang) kilometer 8 ya, biar 'deket' sama tempatku"

Malas memikirkan opsi lain, hingga akhirnya,

"Oke, 19.30 ya di sana!"

Pembicaraan klasik mulai. Menggunjingkan skripsi, common enemy, hingga cem-ceman. Hal-hal yang cukup dikategorikan sebagai basa-basi untuk memulai pembicaraan. Sembari tengah mengumpulkan fokus untuk mengerjakan tugas.

Hingga pada akhirnya satu persatu dari kami memilih fokus untuk berbicara, melontarkan isi pikiran satu sama lain. Tentunya dengan menyatakan talak terhadap tugas yang tengah di depan mata.

Catatan

Ajak Ia Bicara

10.23


Pekan-pekan semester akhir yang saya alami sedikit banyak mungkin sama dengan kebanyakan. Tidak ada sama sekali jadwal kuliah, rapat, presentasi, bahkan jalan-jalan saja enggan.

Kegiatan sama sekali berkurang dibanding masa-masa 'gila' yang berada di kisaran semester 3-6 kalau untuk sarjana. Semua organisasi dicicipi, kepanitiaan sana-sini, tugas masih menumpuk, pun masih sok ikutan lomba dengan sepenuh hati. Ada yang seperti itu? Ada.

Catatan

Kasih Ibu Sepanjang Masa, Kasih Anak?

22.45

Pada tanggal 30 Januari yang lalu, saya mencoba fitur polling pada Instagram Story. Polling waktu itu adalah menanyakan apakah teman-teman followers penasaran dengan kisah si Ibu yang menyatakan bahwa ‘kasih ibu sepanjang masa, namun kasih anak ke ibu (agaknya) tidak’. 87% voters memilih penasaran. Maka kali ini akan coba saya ceritakan obrolan kala mengantri giliran ke Poli Gigi pada sebuah Puskesmas di Kota Semarang.


Konten Instagram Story pada akun pribadi saya @rizkianasidqi

Nyastra

Rumuskan Jawaban

16.42

Stop. Berhenti. Tunggu.
Lihat sekeliling.
Kamu masih bisa ingat apa yang membuatmu berada di sana?
Kamu masih bisa mengenal sekadar siapa yang kamu ajak bicara?

Masih?

Tunggu.
Sebentar.

Kamu yang ada dirimu.
Masih bisa merasakan apa itu kamu?
Kamu masih bisa sekadar mendeskripsikan siapa dan bagaimana kamu bisa menjadi kamu?

Sebentar.
Satu lagi.

Sebenarnya, kamu dan dirimu, kini melakukan apa?
Waktu mu kamu sia sia kan untuk hal macam apa?

Coba sekarang
Duduk
Dan tunggu sebentar.

Mungkin kamu masih perlu merumuskan jawabannya

27 Februari 2016

Nyastra

Sampaikan

16.40

Selamat malam,
Kamu yang sedang diam di sana
Kamu yang sedang mengulum senyum di sana

Sampaikan pada hening
Bahwa aku merindukannya
Sampaikan pada tawa
Bahwa aku membutuhkannya

Sudah
Itu saja

Izinkan aku menutup hari ini,
Dengan irama kebahagiaan

1 Maret 2016,
Sebuah catatan