Opini

Sumpah (bahasa) Pemuda

21.46

28 Oktober ditetapkan sebagai Hari Sumpah Pemuda. Nun jauh 90 tahun silam, gema komitmen pemuda untuk bersatu-padu dalam perbedaan, mengguncangkan peradaban pertiwi. Bersatu dalam bahasa, nusa, dan tanah air.

10 pemuda bisa mengguncangkan dunia, pekik Bung Karno. Tak terbayangkan betapa gelora kepemudaan kala itu hingga Bung Karno yakin betul dengan hanya 10 pemuda, dunia ini bisa berguncang. Sekilas terbayangkan mega guncangan tektonik terjadi hanya disebabkan oleh sekelompok Super Junior, penyuka K-Pop pasti paham betul siapa itu Suju.

Relung

Stepping on A Jovian Planet

08.45

Saya dulu pernah menjadi kaum pemuja bintang. Eh bukan, maksudnya pembelajar tata surya. Meskipun bahkan ikut Seleksi Olimpiade Sains Kabupaten saja belum pernah, tapi alhamdulillah Allah masih mengizinkan ada beberapa materi bimbingan astronomi yang masih menempel pada ingatan. Salah satunya tentang Planet Jovian.

Catatan

Spread the Good Words!

15.18

Peserta Workshop Duta Cerita Yogyakarta Batch #1 bersama panitia.

Ada pepatah yang mengatakan, bahwa ketika kamu menjadi yang paling pintar dalam sebuah kelas, maka kamu berada di kelas yang salah. Pepatah tersebut secara tidak langsung memerintahkan kita yang sedang mencari ilmu, untuk menemukan kelas dimana kita termasuk pada golongan orang-orang kelas bawah.

Agar kita merasa bodoh dan menjiwai bahwa kita sedang memintarkan diri.

Catatan

Tentang Persiapan

03.25

sumber gambar: dokumentasi pribadi.

Tepat hari kemarin, 20 September 2017 saya membuat sebuah post pada akun instagram. Post tersebut berisikan secuplik pandangan tentang sebuah momentum penting dalam kehidupan, yakni pernikahan.

Pada post tersebut disiratkan bahwa kita tidak akan pernah tahu kapan kita siap (untuk menikah). Karena sejatinya kita hidup di dunia, tugasnya memang untuk bersiap-siap.

Catatan

Harmoni dalam Ilusi

23.27

Kembali ke dunia urban setelah sekian lama berada dalam area detoksifikasi teknologi sedikit membuat saya canggung. Aneh ketika melihat jarang sekali manusia yang saling bercengkerama,  bahkan sekadar melempar senyum. Jarang sekali melihat si miskin bersandingan dengan si kaya. Apalagi melihat pak ustadz makan bersama dengan biksu, atau pendeta.